Makalah Penanganan Pasca Panen Pada Ubi Kayu

Makalah Penanganan Pasca Panen Pada Ubi kayu - Kali ini admin budidayapertanian.com akan membagikan makalah seputar penanganan pasca panen ubikayu buat kalian yang sedang mencari seputar referensi makalh tentang ubi kayu bisa di baca baca di artikel berikut ini semoga dapat membantu temen temen semuanya.



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Di Indonesia, ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan makanan pokok ke tiga setelah padi dan jagung. Sedangkan untuk konsumsi penduduk dunia, khususnya penduduk negara-negara tropis, tiap tahun diproduksi sekitar 300 juta ton ubi kayu. Produksi ubikayu di Indonesia sebagian besar dihasilkan di Jawa (56,6%), Propinsi Lampung (20,5%) dan propinsi lain di Indonesia (22,9%). Permasalahan umum pada pertanaman ubikayu adalah produktivitas dan pendapatan yang rendah. Rendahnya produktivitas disebabkan oleh belum diterapkannya teknologi budidaya ubikayu dengan benar baik pemupukan baik pupuk an-organik maupun organik (pupuk kandang).
Konsumen Indonesia kini mulai menyadari akan pentingnya mengkonsumsi hasil pertnian yang sehat yaitu produk organic. Peluang inilah yang menjadi dorongan terwujudnya penerpan teknologi budidaya ubikayu dengan system organic. Teknik budidaya organik merupakan teknik budidaya yang aman, lestari dan mensejahterahkan petani dan konsumen. Bahan sisa hasil panen ataupun limbah organik lainnya harus dimanfaatkan atau dikembalikan lagi ke lahan pertanian agar lahan pertanian kita dapat lestari berproduksi sehingga sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud.
Latar belakang inilah yang mendorong dilakukannya pernerapan teknologi budidya ubi kayu dengan system organic. Kebutuhan pasar yang semakin meningkat, yang di pacu dengan trend positif dari produk pertanian organic dimasyarakat yang semakin diminati membuat diperlukannya kajian mendalam tentang system organic pada produk pertanian. Agar sistem yang dianggap mampu menjaga keberlanjutan pertanian Indonesia ini semakin berkembang  dan dampak positifnya agar semakin cepat bisa dirasakan terutama kelak untuk generasi muda kita.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. AGRI INPUT
2.1.1Persyaratan dan Penyiapan Bibit
Tanaman ubi kayu biasanya diperbanyak dengan menggunakan stek batang. Namun, tanaman ini juga dapat diperbanyak dengan menumbuhkan bijinya.  Cara ini hanya digunakan untuk tujuan pemuliaan tanaman, bukan untuk budidaya, karena membutuhkan proses dan waktu yang lama. 
Keuntungan melakukan perbanyakan tanaman dengan menggunakan stek adalah waktunya lebih cepat dan hasilnya pun akan sama dengan tanaman induknya.  Syarat bibit yang baik untuk bertanam singkong adalah sebagai berikut:

a)  Bibit berasal dari tanaman induk yang cukup tua (6-12 bulan).
b)  Pertumbuhan induk harus normal, sehat, serta seragam.
c)  Batangnya telah berkayu dan berdiameter > 5 cm, dan lurus.
d)  Belum tumbuh tunas-tunas baru.
Setelah dipilih batang dari pohon induk yang memenuhi syarat, kemudian dilakukan penyiapan bibit.  Tahapan penyiapan bibit  ubi kayu meliputi hal-hal sebagai berikut:
a)  Bibit berupa stek batang dengan panjang sekitar 20 cm atau memiliki 4 mata.
b)  Pilih batang bagian bawah sampai tengah.
c)  Stek yang terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25-50 batang stek.
d)  Semua ikatan stek yang dibutuhkan kemudian diangkut ke lokasi penanaman.

Hal penting yang harus diperhatikan pada saat penyiapan bibit ini adalah bahwa ukuran panjang bibit harus seragam, agar pertumbuhannya pun seragam. 
 Alat pemotong  yang digunakan untuk memotong-motong batang singkong calon bibit harus tajam, sehingga memungkinkan satu kali tebasan cukup untuk memotong batang singkong.  Mengapa harus tajam ?  karena apabila kurang tajam dikhawatirkan pemotongan yang berulang-ulang pada calon stek batang akan mengakibatkan luka yang berlebihan, sehingga merusak calon bibit. Adanya luka memungkinkan terjadinya serangan patogen yang menyebabkan penyakit. 
2.1.2. Pemupukan Pada Singkong/Ubi Kayu 
Budidaya singkong atau ubi kayu secara intensif berpotensi besar untuk mendapatkan hasil yang signifikan. Hasil olahan singkong sekarang ini sangat variatif dari mulai pangan sampai dengan bioetanol sebagai pengganti bahan bakar bensin.
Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea 133, 200 kg, TSP 60, 100 kg dan KCL 120, 200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N : P : K = 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N : P : K = 2/3 : 0 : 2/3.
Sistem Golden Harvest :
Sistem pemupukan menggunakan Golden Harvest, mengurangi kebutuhan pupuk anorganik/kimia sampai dengan 50%. Adapun salah satu cara pemupukan ubi kayu/singkong adalah sebagai berikut :
3 hari sebelum tanam berikan larutan Golden Harvest (1 liter Golden Harvest : air max 350 liter) pada lahan secara merata.
10 hari setelah tanam berikan campuran pupuk Urea sebanyak 35 kg, TSP 60kg dan KCL 35 kg pada lahan 1 ha. Asumsi bila 1 ha lahan terdapat 5000 pohon berarti 1 pohon diberikan campuran pupuk 25gram.
Pemberian Golden Harvest selanjutnya setiap 1 bulan sekali sebanyak 1 liter per ha sampai tanaman umur 4 bulan.
Pemberian pupuk anorganik/kimia lanjutan pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk urea sebanyak 70kg dan KCL sebanyak 70kg. Asumsi bila 1 ha lahan terdapat 5000 pohon berarti 1 pohon diberikan campuran pupuk ± 30gram.

2.1.3. Pengolahan Tanah 
Pengolahan tanah dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi tanah yang tadinya padat menjadi lebih gembur, membersihkan kebun yang akan ditanami dari gulma, dan sebagai bagian dari kegiatan sanitasi atau kebersihan lingkungan, sehingga tempat hidupnya sumber-sumber penyakit dan hama dapat dibersihkan.
Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan cangkul atau bajak. Untuk areal yang luas, sebaiknya digunakan traktor. Setelah tanah diolah dan dibersihkan, selanjutnya dibuat bedengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti pemupukan dan penyiangan.
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCOS). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

2.2. AGRO TEKNOLOGI
2.2.1.  Penentuan Pola Tanam
Pola tanam adalah sistem penanaman dalam berusahatani. Pola tanam ada yang dengan sistem monokultur, yaitu penanaman satu jenis tanaman dalam satu lahan, dan ada yang sistem tumpangsari, yakni penanaman dua atau lebih jenis tanaman dalam satu lahan. Pola tanam harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak antar tanaman yang umum digunakan pada pola monokultur yaitu 100 x 100 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari, jarak tanam yang dapat digunakan adalah 150 x 150 cm atau 200 x 200 cm.

2.2.3. Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung atas stek ubi kayu untuk menghindari tergenangnya air di batang agar tidak terjadi pembusukkan atau menghindari patogen penyakit yang biasanya menyukai tempat-tempat yang lembab.  Stek batang kemudian ditanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.  Lakukan pemberian pupuk pada saat penanaman.  Pupuk yang digunakan sebagai pupuk dasar ini biasanya adalah pupuk kandang.  Pupuk diberikan di sekeliling tanaman dengan diameter sekitar 100 cm.  Tanah disekeliling tanaman digali atau dibuat parit kecil.  Kemudian pupuk ditaburkan  ke dalam parit tersebut.  Setelah itu ditutup dengan tanah dari bekas galian tadi.

2.2.4. Pemeliharaan Tanaman
1.Penyulaman
Penyulaman dilakukan untuk mengganti bibit yang mati atau tumbuh tidak normal, dengan bibit yang baru/cadangan. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas agar tanaman yang disulamkan tidak layu.  Waktu penyulaman adalah minggu pertama dan minggu kedua setelah penanaman. Penyulaman yang dilakukan pada minggu ketiga atau dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi tidak seragam.

2.Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan membuang gulma yang tumbuh di areal pertanaman ubi kayu. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan.  Alat yang digunakan dalam penyiangan ini dapat berupa cangkul, kored atau parang, sambil menggemburkan kembali tanah.  Penyiangan harus dilakukan  hati-hati, jangan sampai alat yang kita gunakan melukai tanaman ubi kayu. 

3.Pembumbunan
Cara pembumbunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembumbunan dapat bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Sama halnya dengan penyiangan, pembumbunan penting dilakukan terutama agar umbi yang terbentuk dalam tanah menjadi besar-besar. Jadi pembumbunan ini memberikan keleluasaan pada akar agar dapat tumbuh dan berkembang  membentuk umbi dengan baik. 
4.Perempelan/Pemangkasan
Padabudidayatanaman ubi kayu perlu dilakukanpemangkasan/pembuangan tunas, karena minimal setiap pohon hanya mempunyai dua atau tiga cabang. Hal ini dilakukan agar batang ubi kayu tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang. Selain itu, konsentrasi pertumbuhan tanaman ubi kayu akan lebih mengarah pada pembentukan umbi, bukan daun. Kecuali dalam pembudidayaan  dengan tujuan untuk dipetik tunasnya.

2.2.5.  Pemupukan
Untuk mencapai hasil yang tinggi perlu diberikan pupuk organik ( pupuk kandang, kompos dan pupuk hijau ) dan pupuk anorganik ( Urea, TSP, KCL ). Pupuk organik sebaiknya diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah.  Volume pupuk organik yang baik untuk 1 hektar tanaman ubi kayu minimal sebanyak 6 ton.  Tujuan utama pemberian pupuk ini adalah untuk memperbaiki struktur tanah.
Pupuk anorganik diberikan tergantung tingkat kesuburan tanah. Pada umumnya dosis pupuk anjuran untuk tanaman ubi kayu adalah: Urea dengan dosis  133 – 200 kg/ ha, SP-36 dengan dosis 60 – 100 kg/ ha, dan KCl dengan dosis 120 – 200 kg/ ha
Cara pemberian pupuk adalah:
a.Pupuk dasar : 1/3 bagian dosis Urea dan KCl, serta seluruh dosis SP-36 diberikan pada saat tanam.
b.Pupuk susulan : 2/3 bagian dari dosis Urea dan KCl diberikan pada saat tanaman berumur 3 – 4 bulan.

2.2.6.Pengairan dan Penyiraman
Kondisi lahan singkong dari awal tanam sampai umur lebih dari empat atau lima bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung, akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang paling baik digunakan adalah sistem genangan, sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan.  Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

2.2.7.  Pengendalian Hama dan Penyakit
Hingga saat ini belum ditemukan penyakit yang berarti bagi tanaman ubi kayu dengan menggunakan varietas unggul, seperti Darul Hidayah. Namun demikian, guna mencegah kemungkinan bila terdapat hama dan penyakit pada tanaman ubi kayu maka di bawah ini terdapat beberapa hama dan penyakit untuk diketahui. 

 Hama
a)  Uret (Xylenthropus)
Ciri  :berada dalam akar dari tanaman.
Gejala : tanaman mati pada usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak.
Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.

  b)  Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)
Ciri :  menyerang  pada  permukaan  bawah  daun  dengan menghisap cairan daun tersebut.
Gejala : daun akan menjadi kering.
Pengendalian: menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.

Penyakit

a)  Bercak daun bakteri
Penyebab : Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG.
Gejala : bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati.
Pengendalian: menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun.

b)  Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith) 
Ciri : hidup di daun, akar, dan batang.
Gejala : daun mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang, dan umbi langsung membusuk.
Pengendalian :  melakukan  pergiliran  tanaman,  menanam varietas yang tahan seperti Adira  1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.

c)  Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
Penyebab : cendawan yang hidup di dalam daun.
Gejala : daun bercak-bercak coklat, mengering, terdapat lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati.
Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.

 d)  Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica)
Penyebab : cendawan yang hidup pada daun.
Gejala : adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda. Pengendalian: memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit.

2.3. PANEN DAN PASCA PANEN
2.3.1.panen 
Ubi kayu dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang, warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ubi kayu adalah 6-8 bulan untuk varietas genjah dan 9-12 bulan untuk varietas dalam. Ubi kayu dipanen dengan cara menggunakan pengungkit atau mencabut batangnya secara langsung. Umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah.

2.3.2. Pasca Panen dan Penyimpanan
Hasil ubi kayu biasanya dalam bentuk ubi segar. Penanganan pasca panen ubi segar meliputi tahap-tahap sebagai berikut.
Pengumpulan Hasil
Kumpulan hasil panen ubi di tempat (lokasi) yang strategis, yaitu tempat yang aman dan mudah di jangkau oleh angkutan.
Sortasi
Pilih dan pisah-pisahkan ubi yang baik dari ubi yang memar atau rusak, dan berdasarkan ukuran ubi.
Penyimpanan 
Penyimpanan di lakukan dengan di buat lubang,ika akan di simpan lama,cara penyimpannya sbb:
1.   Alasi dasar lubang dengan daun-daun, misalnya daun nangka atau daun ubi kayu.
2.   Masukan ubi kayu secara teratur kemudian tutup dengan selapus daun-daun segar atau jerami.
3.   Masukan ubi pada lapisan kedua dan seterusnya hingga lubang tersebut berisi beberapa lapisan ubi. Tiap lapis ubi ditutup dengan daun-daun segar atau jerami.
4.   Timbun lubang berisi ubi dengan tanah sampai permukaan lubang berbentuk cembung.

2.3.3.   Syarat penyimpanan
  Pada masa pertumbuhan, kandungan karbohidrat umbi singkong semakin meningkatdan mencapai titik optimal saat umbi siap dipanen. Tanda – tanda bahwa singkong sudah waktunya dipanen adalah pertumbuhan daun mulai berkurang; warna daun mulai mengering dan sebagian besar mulai rontok; dan umur tanaman sudah cukup ( tergantung varietasnya ). 
Apabila sampai berumur 12 bulan belum dipanen, singkong tidak bertambah besar, malah kualitasnya akan berkurang. Bahkan, apabila pada umur 13 bulan singkong belum dipanen juga, kadar air umbi akan meningkat, sedangkan kadar protein, tepung, dan HCN menurun.
  Untuk mengangkat singkong dari dalam tanah ( panen ) diperlukan cara yang tepat agar tidak banyak singkong yang rusak ( patah atau tertebas cangkul ). Pada lahan yang gembur, panen singkong dilakukan dengan cara dicabut dengan tangan. Umbi yang tertinggal dapat diambil dengan menggunakan cethok atau cangkul. Sementara, pada lahan berat ( tanah yang mengandung lempung ), singkong dicabut dengan menggunakan kayu atau bambu sebagai pengungkit. Kayu pengungkit diikatkan pada pangkal batang dan salah satu bagian kayu pengungkit diangkat dengan tangan sampai umbinya terangkat ke permukaan tanah.
Sebernarnya singkong tidak termasuk tanaman musiman, artinya dapat dipanen kapan saja asal sudah mencapai usia yang cukup, yaitu ± 9 bulan. Namun kenyataannya, panen sering dilakukan pada saat tanaman berumur 7 – 10 bulan. Di Indonesia, masa tanam dan panen dilaksanakan dengan mengikuti musim pergantian dengan tanaman lainnya. Hal ini membuat industri – industri pengolah terpaksa menyesuaikan pada kondisi tersebut dengan upaya pengawetan sementara terhadap singkong sambil menunggu waktu panen berikutnya. Dengan demikian, pengadaan bahan dapat dilakukan sepanjang tahun.
Singkong hanya memiliki segar sangat singkat yaitu 2 x 24 jam. Oleh karena itu, perlu diupayakan tindakan untuk mengamankan singkong agar sampai saatnya digunakan masih tetap dalam kondisi baik/ segar. Upaya yang digunakan adalah memanen singkong secara bertahap atau mengawetkan singkong segar. Memanen singkong secara bertahap, artinya setiap kali panen hanya sebatas kebutuhan saja, tidak secara keseluruhan dipanen sekaligus. Apabila singkong sudah terlanjur dipanen seluruhnya, perlu segera dilakukan sortasi ( pemisahan ) antara singkong yang mulus ( tidak ada bagian yang terbuka ) dan yang cacat. 
Singkong yang cacat ( terbuka pada kulit dan dagingnya ) diproses terlebih dahulu atau diawetkan dengan cara dikupas dan direndam air. Air rendaman harus diganti setiap hari. Cara ini dapat digunakan untuk mengawetkan singkong selama 3 – 4 minggu, namun dengan resiko kehilangan kadar patinya. Dengan perlakuan semacam ini, kadar HCN-nya semakin berkurang karena selama perendaman HCN ( sianida ) akan terlepas dan larut dalam air perendaman.
2.3.4.   Metode atau Cara Penyimpanan
  Cara penyimpanan singkong segar telah banyak diteliti dan dipraktekkan. Tanpa perlakuan khusus singkong segar hanya tahan sekitar 48 jam. Cara – cara penyimpanan singkong segar adalah sebagai berikut :

1.Singkong segar dipotong sepanjang 5 cm pada tangkainya. Diangin – anginkan supaya getahnya kering. Singkong – singkong tersebut lalu diatur berjejer rapat dalam bak batu bata yang ditumpuk tanpa menggunakan semen dan dasarnya sudah ditutup pasir kering setebal 5 cm. Bak batu bata berukuran 1,0 m x 1,0 m x 1,0 m. Jejeran singkong tersebut ditutup lagi dengan pasir setinggi 5 cm, begitu seterusnya sampai pasir terakhir berjarak 10 cm dari tepi bahan. Setelah itu di atas pasir ditutup lagi dengan batu bata dan yang terakhir ditutup seng. Pada penyimpanan seperti ini, bak batu bata harus didirikan pada tempat yang aman serta tidak terkena air hujan. singkong segar dapat tahan 1 – 2 bulan.

2. Singkong segar dalam keadaan utuh ditumpuk di atas lapisan jerami, rumput atau daun – daun kering. Diameter tumpukan jerami 1,5 m, tebalnya 15 cm. Sekitar 300 – 500 kg singkong segar ditimbun di atas alas tersebut, kemudian ditutup dengan lapisan jerami dan ditutup lagi dengan tanah hingga ketebalan 15 cm. Sekeliling timbunan dibuat saluran drainase agar tidak terendam air. Keadaan cuaca sangat mempengaruhi daya tahan singkong yang disimpan. Perlu diupayakan agar tidak terlalu basah dimusim hujan. Daya simpan singkong dengan cara ini dapat mencapai 3 bulan.
 3.Singkong disimpan dalam peti ( kapasitas 20 kg ) yang diisi serbuk gergaji. Kadar air serbuk gergaji dipertahankan sebesar 50 %, agar kelembabannya terkendali sehingga singkong awet. Kondisi penyimpanan terlalu kering akan cepat terjadi kerusakan fisiologis, sebaliknya bila terlalu basah menyebabkan kebusukan. Seringkali digunakan sekam padi ( pesak ) sebagai peganti serbuk gergaji. Tetapi sekam di nilai kurang baik karena daya serap dan distribusi air kurang merata. Cara penyimpanan singkong segar seperti ini, pada keadaan yang terlindung dari sinar matahari, dan suhu sekitar 26 oC dapat mempertahankan singkong segar selama satu bulan.

3.   Singkong segar yang telah dibersihkan dicelup dalam larutan fungisida thiobendazole, atau fungisida lainnya seperti Maneb dan benomyl. Kemudian dikemas dalam kantong plastik polietilen. Pengemasan ini akan membantu mengawetkan singkong dari kerusakan fisiologis, sedangkan pencelupan dalam fungisida dapat mencegah kerusakan oleh jasad renik. Perlu diperhatikan agar singkong benar – benar segar ( 2 – 3 jam setelah panen ) pada saat di kemas. Cara penyimpanan seperti ini banyak digunakan di pasar – pasar swalayan. Daya tahan singkong segar sekitar 1 – 3 bulan.  

2.3.5.   Tujuan Penyimpanan
  Penyimpanan merupakan proses untuk mempertahankan daya simpan dan mutu ubi kayu.  Tujuannya adalah untuk :
a. Mempertahankan daya simpan ubi kayu.
b. Menambah nilai ekonomis umbi ubi kayu.
c. Memudahkan pengolahan lebih lanjut.
d. Umbi ubi kayu terhindar dari kerusakan akibat busuk, jamur, dan lain-lainnya. 

2.3.6.   Pemasaran
Jalur distribusi ubi kayu akan menjadi lebih efisien. Pedagang,Agen, dan pelaku rente lainya sebagai penyebab inefisiensi ratai pemasaran tidak akan menjadi aktor pada model kemitraan ini. Ini tentu akan memberi kesempatan petani untuk meningkatkan pendapatannya karena tidak akan mendapat tekanan harga dari para pedagang,agen, atau rente lain, sehingga posisi tawar petani menjadi tinggi.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. kesimpulan 
   Bahwa tanaman ubi kayu secara intensif berpotensi besar untuk mendapatkan hasil yang signifikan. Hasil olahan singkong sekarang ini sangat variatif dari mulai pangan sampai dengan bioetanol sebagai pengganti bahan bakar bensin.   

3.2. saran 
 Kita harus memahami peluang - peluang usaha yang ada disekitar. Dalam dunia agraris tentu banyak sekali hasil pertanian yang dapat diolah menjadi produk lain yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Sehingga dengan mengetahui cara pemanfaatan dari suatu hasil pertanian, kemudian menerapkannya dalam suatu usaha, akan diperoleh keuntungan yang lebih besar dan dapat meningkatkan penghasilan

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Makalah Penanganan Pasca Panen Pada Ubi Kayu"

Posting Komentar

Budayakan meninggalkan komentar setelah membaca.
Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan yang tidak menyinggung dan tidak berbau sara dan porno.

TERIMAKASIH ATAS KOMENTAR ANDA ... !!!