Makalah Budidaya Ubi Jalar Lengkap


Makalah Budidaya ubi jalar lengkap - kali ini admin akan bagikan makalah budidaya ubi jalar buat kalian yang masih mencari referensi seputar makalah yuk langsung saja bisa kalian ambil disini semoga bisa membantu kalian dalam mengerjakan tugas makalahnya



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Ubi jalar atau ketela rambat atau “sweet potato” diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, memastikan daerah sentrum primer asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah.Ubi jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia.
Di Indonesia, ubi jalar umumnya sebagai bahan pangan sampingan.. Komoditas ini ditanam baik pada lahan sawah maupun lahan tegalan. Luas panen ubu jalar diindonesia sekitar 230.000 ha dengan produktivitas sekitar 10 ton/ha. Padahal dengan teknologi maju beberapa varietas unggul ubi jalar dapat menghasilkan lebih dari 30 ton umbi basah/ha (Anonim,2004).
Di beberapa daerah tertentu, ubi jalar merupakan salah satu komoditi bahan makanan pokok, Seperti di irian jaya. Ubi jalar merupakan komoditi pangan penting di Indonesia dan diusahakan penduduk mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanaman ini mampu beradaptasi di daerah yang kurang subur dan kering. Dengan demikian tanaman ini dapat diusahakan orang sepanjang tahun.
Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lamb.) Merupakan sumber karbohidrat yang dapat dipanen pada umur 3 – 8 bulan. Selain karbohidrat, ubi jalar juga mengandung vitamin A,C dan mineral serta antosianin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Disamping itu, ubi jalar tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku industri dan pakan ternak (Anonim, 2004).
Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering di jumpai menyerang tanaman jagung adalah hama penggerek batang (omphisa anastomasalis),hama boleng ( cylas formicarlus fabr.) dan hama ulat penggulung daun (tabidia aculeasis wlk). Selain hama-hama tersebut di temukan pula hama lainya yaitu ulat tanduk (agrius convovolvuli), (helicoverpa armigera), dan (leuchopolis spp).
Salah satu  hama yang akan di bahas pada makalah ini yaitu hama boleng (cylas formicarlus fabr.) yang tidak kalah pentingnya juga dengan hama-hama yang lain ,  jika tidak di kendalikan maka akan merugikan petani  karena pengurangan produksi panen, oleh sebab itu  hama boleng tidak boleh di pandang remeh.
Upaya pengendalian oleh petani pada saat ini adalah dengan menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya yang tidak ramah lingkungan. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mengintegrasikan komponen pengendalian yang selaras terbukti tidak hanya meningkatkan produksi jagung tetapi juga pendapatan petani. Sistem PHT melibatkan semua komponen yang berpeluang untuk menekan atau mencegah hama untuk mencapai ambang batas populasi merusak secara ekonomi (economic injury level/ economic threshold) (Willson, 1990).

B.    Tujuan
Adapun tujuan makalah ini yaitu :
1.      Mengetahui morfologi dan biologi hama boleng (cylas formicarlus fabr.)
2.      Mengetahui gejala serangan yang ditimbulkan akibat boleng (cylas formicarlus fabr.)
3.      Mempelajari cara-cara mengendalikan  boleng (cylas formicarlus fabr.) agar mudah, efektif dan efisien dalam pengendaliannya.
4.      Agar produksi ubi jalar meningkat.







BAB II
PEMBAHASAN

A.      Morfologi, Ekologi dan Biologi Hama Boleng C. Formicarius )
Siklus hidup C. formicarius memerlukan waktu 1–2 bulan, secara umum 35–40 hari pada musim panas. Generasinya tidak merata, demikian pula jumlah generasi selama setahun. Di Indonesia, terdapat 9 generasi C. formicarius dalam setahun, (Nonci dan Sriwidodo 1993; Supriyatin 2001), di Florida 6–8 generasi, di Texas 5 generasi, dan di Louisiana Amerika Serikat 8 generasi (Waddil 1982; Capinera 1998). Serangga dewasa tidak berdiapause, tetapi cenderung tidak aktif bila kondisi lingkungan kurang sesuai. Semua fase pertumbuhan dapat ditemukan sepanjang tahun jika tersedia makanan yang sesuai.
1.     Telur
Telur diletakkan di dalam rongga kecil yang dibuat oleh kumbang betina dengan cara menggerek akar, batang, dan umbi. Telur diletakkan di bawah kulit atau epidermis, secara tunggal pada satu rongga dan ditutup kembali sehingga sulit dilihat (Morallo dan Rejesus 2001; AVRDC 2004). Menurut Supriyatin (2001), telur C. formicarius sulit dilihat karena ditutup dengan bahan semacam gelatin yang berwarna cokelat. Telur C. formicarius berwarna putih krem, berbentuk oval tak beraturan (AVRDC 2004), berukuran 0,46 – 0,65 mm (Supriyatin 2001), sedangkan menurut Capinera (1998) panjang telur 0,77 mm dengan lebar 0,50 mm.
Di Florida, lama fase telur berkisar 5 hari pada musim panas dan 11–12 hari bila musim dingin (Capinera 1998). Periode inkubasi telur beragam sesuai dengan suhu, yakni 4 hari pada suhu 30oC dan 7, 9 hari pada suhu 20oC. Di Indonesia, rata-rata lama fase telur adalah 7 hari (Supriyatin 2001), sedangkan di India 6,30 hari Rajamma (1983). Seekor kumbang betina meletakkan telur 3–4 butir / hari atau 75–90 butir selama hidupnya (30 hari). Di laboratorium, setiap ekor kumbang betina mampu meletakkan telur 122–250 butir (Capinera 1998), sedangkan menurut Supriyatin (2001) sekitar 90–340 butir.
2.     Larva
Larva yang baru menetas berukuran lebih besar dari telur, tanpa kaki, berwarna putih dan lambat laun berubah menjadi kekuningan (AVRDC 2004). Larva yang baru menetas langsung menggerek batang atau umbi. Bila larva menggerek batang, biasanya arah gerekan menuju umbi. Larva C. formicarius terdiri atas tiga instar dengan periode instar pertama 8 – 16 hari, instar kedua 2–21 hari, dan instar ketiga 35–56 hari (Capinera 1998). Supriyatin (2001) melaporkan bahwa larva C. formicarius terdiri atas 5 instar dalam waktu 25 hari. Suhu merupakan faktor utama yang mempengaruhi tingkat perkembangan larva. Perkembangan larva mencapai 10 dan 35 hari berturut-turut pada suhu 30oC dan 24oC (Capinera 1998).
Di India, fase larva di laboratorium rata-rata berlangsung 16 hari (Rajamma 1983) dan di Taiwan 25–35 hari. Larva instar akhir berukuran panjang 7,50– 8 mm dan lebar 1,80–2 mm (CABI 2001), berwarna putih kekuningan. Caput besar berukuran sepertiga dari panjang badan dan seperdua dari lebar badan. Kepala berwarna kuning hingga cokelat, mandibula kuning hampir hitam dan abdomen larva agak besar. TelurCylas formicarius (AVRDC 2004).
3.     Pupa
Larva instar akhir membentuk pupa pada umbi atau batang, berbentuk oval, kepala dan elytra bengkok secara ventral. Panjang pupa berkisar 6–6,50 mm (Capinera 1998; CABI 2001; AVRDC 2004). Pupa berwarna putih, tetapi seiring dengan waktu dan perkembangannya, berubah menjadi abu-abu dengan kepala dan mata gelap. Lama masa pupa berkisar 7–10 hari, tetapi pada cuaca dingin dapat mencapai 28 hari (Capinera 1998). Di laboratorium di India, rata-rata stadium pupa adalah 4,10 hari (Rajamma 1983).
4.     Serangga Dewasa
Kumbang yang baru keluar dari pupa tinggal 1–2 hari di dalam kokon, kemudian keluar dari umbi atau batang. CABI (2001) melaporkan bahwa kumbang C. formicariusmenyerupai semut, mempunyai abdomen, tungkai, dan caput yang panjang dan kurus (Gambar 4). Kepala berwarna hitam, antena, thoraks, dan tungkai oranye sampai cokelat kemerahan, abdomen dan elytra biru metalik (Capinera 1998; Morallo dan Rejesus 2001).
Supriyatin (2001) juga menyatakan bahwa C. Formicarius mempunyai kepala, abdomen, dan sayap depan berwarna biru metalik, sedangkan kaki dan dadanya cokelat. Tungkai mempunyai cincin di sekeliling tibia. Antena mempunyai 10 ruas. Perbedaan kumbang jantan dan betina terletak pada antena. CABI (2001) melaporkan bahwa antena kumbang jantan berbentuk benang, ruas antena mempunyai jarak yang sempit, dan tidak sama, berbentuk sosis, dan panjangnya lebih dari dua kali panjang flagelum.
Antena kumbang betina berbentuk gada, jarak ruas antena 2/3 dari panjang flagelum. Suhu sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan lama hidup C.formicarius. Mullen (1981) menyatakan bahwa kumbang C. formicarius yang dipelihara pada ubi jalar varietas Jewel menurun perkembangannya sejalan dengan meningkatnya suhu dari 20oC menjadi 30oC. Kumbang akan hidup lebih lama pada suhu 15oC sehingga penyimpanan ubi jalar pada suhu 15oC belum dapat memusnahkan populasi C.formicarius.
Kumbang betina dapat hidup 113 hari dan mampu bertelur 90– 340 butir. Siklus hidup setiap generasi berlangsung 38 hari, sehingga dalam setahun terdapat 9 generasi (Supriyatin 2001). Di India siklus hidup C. Formicarius berkisar 23,20–24,70 hari pada bulan Februari–Mei, 26,20–26,50 hari pada bulan Juni–September, dan 27–29,10 hari pada bulan Oktober–Januari. Periode praoviposisi, oviposisi, dan pascaoviposisi berturut-turut adalah 8,40; 82,60; dan 6,10 hari (Rajamma 1983).
Pada suhu 15oC di laboratorium, serangga dewasa dapat hidup lebih dari 200 hari jika makanan tersedia, dan hanya 30 hari jika dilaparkan. Namun, lama hidup kumbang menurun menjadi 3 bulan jika dipelihara pada suhu 30oC dengan makanan, dan 8 hari tanpa makanan (Capinera 1998). Kumbang dapat terbang tetapi jarang terjadi dan jarak terbangnya relatif dekat. Kaku et al. (1999) melakukan pengamatan terhadap pergerakan kumbang C. formicarius di laboratorium pada suhu 27oC, RH 70% dan 16 jam terang serta 8 jam gelap. Persentase kumbang dewasa yang bergerak dari satu umbi ke umbi lainnya selama 7 hari adalah 77,10% untuk kumbang jantan dan 40% untuk kumbang betina.
B.      Penyebaran
Cylas formicarius dijumpai hampir di seluruh daerah pertanaman ubi jalar di dunia, baik di daerah tropika maupun subtropika. Di Indonesia, C. formicarius banyak ditemukan di Papua, Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Nusa Tenggara (Nonci dan Sriwidodo 1993; Trustina et al. 1993). Di Amerika Serikat, hama tersebut pertama kali ditemukan di Louisiana pada tahun 1875, kemudian di Florida tahun 1878 dan Texas tahun 1890, dan diduga masuk melalui Kuba. Saat ini hama itu sudah ditemukan di seluruhpantai bagian tenggara mulai dari Carolina Utara hingga Texas, juga ditemukan di Hawai dan Puerto Rico (Capinera 1998). Komi (2000) melaporkan bahwa C.formicarius pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1900-an kemudian menyebar ke bagian utara Pulau Amami, Tokara, Setokuchi, kemudian menjadi endemik. Pada tahun 1995, C. Formicarius ditemukan untuk pertama kalinya di kota Muroto di Kochi Prefecture.

C.   Gejala Serangan
Hama ini menyerang ubi jalar dengan cara menggerek ubi sejak di lapangan sampai di tempat penyimpanan. Hama ini menyerang tanaman ubi jalar dalam fase larva.Kerusakan akibat serangan larva hama boleng terlihat dengan adanya lubang lubang kecil bekas gerekan dan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang telah memasuki fase umbi. Dan bila hama terbawa oleh ubi di gudang penyimpanan sering merusak ubi sehingga sering merusak kualitas dan kuantitas ubi jalar.
D.   Cara Pengendalian
Pengendalian hama boleng ini harus di lakukan jika sudah sampai batas ekonomi. Beberapa cara untuk mengendalikan hama boleng yaitu :
a.      Pencegahan
1.      Penggunaan bibit yang sehat dan tidak terdapat telur hama serta lakukan perendaman bibit dengan pestisida sebelum di tanam.
2.      Merotasikan tanaman yang tidak sefamili dengan ubi jalar untuk memutuskan siklus hama, misalnya padi-ubi jalar-padi.
3.      Pembumbunan atau penimbunan guludan secara berskala untuk menghindari rekahan tanah yang biasa digunakan sebagai jalan masuk imago untuk meletakkan telur.
4.      Pengambilan dan pemusnahan batang dan akar semua jenis ubi jalar pada lahan yang khususnya yang terserang hama cukup berat.
5.      Pengamatan/monitoring hama terhadap tanaman secara periodik.
b.    Pengendalian hayati
Pengendalian secara Biologis Musuh alami kumbang berperan penting dalam menekan populasi hama boleng. Agen mikrobia seperti jamur entomofaga, bakteri, dan nematoda memiliki potensi sebagai agen pengendali hayati. Kombinasi feromon seks dengan jamur Beauveria bassiana efektif mengendalikan hama boleng.
Pemanfaatan cendawan entomopatogen merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT). Beauveria bassiana merupakan cendawan entomopatogen yang efektif mengendalikan hama dari ordo Coleoptera. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan frekuensi dan cara aplikasi cendawan entomopatogenB. bassiana yang efektif.
Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Hasil penelitian menunjukkan semakin sering aplikasi cendawan, tingkat kerusakan umbi, populasi telur, larva, dan imago semakin rendah, sedangkan perlakuan pra tanam (aplikasi seminggu sebelum tanam dan stek dicelupkan pada suspensi cendawan sebelum tanam tidak berpengaruh terhadap tingkat kerusakan umbi, populasi telur, larva, dan imago(gambar 1). Oleh karena itu, untuk menekan kerusakan umbi akibat serangan penggerek umbi dapat dilakukan dengan aplikasi cendawan B. bassiana dengan cara menyemprotkan ke permukaan tanah dan bagian tanaman. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, frekuensi aplikasi dilakukan paling tidak empat kali, atau diaplikasikan mulai umur enam minggu setelah tanam (MST) pada saat calon umbi sudah terbentuk.
Keterangan perlakuan:
1.               Aplikasi (penyemprotan) suspensi konidia B. bassiana 108/ml satu minggu sebelum tanam
2.               Stek ubi jalar dicelupkan suspensi konidia B. bassiana selama 30 menit
3.               Perlakuan 1 + perlakuan 2                                                                                          
4.               Perlakuan 1 + perlakuan 2 + aplikasi 10 ml suspensi per pot ke tanah pada umur 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 minggu setelah tanam (MST)
5.               Perlakuan 2 + aplikasi ke tanah pada 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 MST
6.               Perlakuan 1 + perlakuan 2 + aplikasi ke tanah pada umur 4, 6, 8, 10, dan 12 MST
7.               Perlakuan 1 + perlakuan 2 + aplikasi ke tanah pada umur 4, 8, 12 MST
8.               Perlakuan 1 + perlakuan 2 + aplikasi ke tanah pada umur 4 dan 8 MST
9.               Perlakuan 1 + perlakuan 2 + aplikasi ke tanah pada umur 4 MST
10.           Perlakuan 1 + perlakuan 2 + aplikasi ke tanah pada umur 8 MST
11.           Proteksi penuh dengan insektisida (bahan aktif Karbofuran)
12.           Kontrol (tanpa pengendalian)
c.      Pengendalian Fisik / Mekanis
a.              menghasilkan sumber infeksi (dicabut/dipetik),
b.             menggunakan peralatan yang bersih,  
c.              memasang perangkap mekanis,
d.             pembakaran sumber infeksi,
e.              menggunakan alat penimbul suara-suara (menolak hama).

d.   Pengendalian Kimiawi
Sekitar 20% petani ubi jalar di Jawa Timur menggunakan insektisida untuk mengendalikan hama ubi jalar. Pengendalian dilakukan dengan cara merendam setek dalam larutan insektisida dengan takaran 0,05% b.a/ha selama 20 menit. Aplikasi insektisida semprotan dapat dilakukan tiga kali, yaitu pada saat tanaman berumur 50, 78, dan 106 hari dengan takaran semprot 1-2 kg/ha. Aplikasi insektisida dalam bentuk butiran dilakukan bersamaan dengan pembumbunan.



BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari sedikit uraian di atas diantaranya yaitu :
a.       Bahwa hama boleng (cylas formicarlus fabr) yang merusak tanaman ubi jalar adalah fase larva.
b.      Pemanfaatan cendawan entomopatogen merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT)
c.       Hama menyerang tanaman ubi jalar dalam fase ubi.
d.      Pembubunan dan penimbunan secara berskala dapat mencegah imago melatakkan telur.
e.       Rotasi tanaman dapat memutus siklus hidup hama.

B.    Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan antara lain :
a.       Tindakan pengendalian sebaiknya di lakukan saat fase pra tanam.
b.      Untuk mengendalikan hama boleng (cylas formicarlus fabr) ini terlebih dahulu kita harus mengenal hama ini, mengetahui morfologi dan biologinya.
c.       Mekanisme – mekanisme penjagaan tanaman dari hama ini perlu di perhatikan dan dijalankan dengan benar.
d.      Lebih baiknya kita mengendalikan hama ini secara fisik atau biologi dibanding kimia, jika secara fisik atau biologi tidak juga berhasil maka baru menggunakan secara kimia, karena kita di tuntut untuk meminimalkan kimia.




DAFTAR PUSTAKA
Rukmana, Rahmat. (1997). Ubi jalar: budi daya dan pascapanen. Yogyakarta: Kanisius,1997.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Makalah Budidaya Ubi Jalar Lengkap"

Posting Komentar

Budayakan meninggalkan komentar setelah membaca.
Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan yang tidak menyinggung dan tidak berbau sara dan porno.

TERIMAKASIH ATAS KOMENTAR ANDA ... !!!